|
Wajah gadis berinisial M ditelengkupkan di atas meja ketika kami masuk kelas dasar di SLB G, "Rawinala", di Jakarta Timur. "M, ayo beri salam..." ajak ibu Agatha yang mengantarkan kami. M tetap bergeming. Justru O, teman sekelasnya, yang tampak antusias. Dia menggapai-gapai tangannya mengajak kami bersalaman. O adalah siswa yang mengalami tuna ganda. Dia mengalami kebutaan sekaligus tuna grahita. Setalah dibujuk-bujuk, akhirnya M mengangkat wajahnya juga.
Astaga, saya tidak dapat menyembunyikan kekagetan setelah melihat kondisi wajah M. Wajah anak perempuan berusia sekitar 9 tahun ini sungguh menimbulkan rasa iba. Saya tidak tega melukiskannya secara detil di sini. Saya hanya dapat mengatakan bahwa wajahnya sepertisebatang lilin yang meleleh karena terbakar. Sehelai handuk sengaja dibebatkan ke lehernya untuk menampung tetesan air liurnya.
M bukan korban kebakaran. Dia adalah korban dari perilaku ibunya, yang menjadi tenaga paramedis di sebuah rumah sakit ternama di negeri
ini. Ibunya tidak menghendaki kehadirannya. Entah apa yang dilakukan oleh ibunya pada saat M masih dalam kandungan. Yang jelas, perbuatan itu berpengaruh pada wajahnya seperti sekarang ini. M juga mengalami kelambatan perkembangan intelektual dan mental. Penderitaan M semakin berat ketika ditolak keberadaannya oleh ibu kandungnya sendiri. Sekarang ia diasuh oleh ibu tirinya dan tinggal di asrama Rawinala.
***
Ketika keluar dari kelas M, kami melihat anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun sedang merayap ke atas trampolin, di halaman sekolah. Dia belum berdiri tegak ketika tiba-tiba seorang guru ikut melompat dan mulai mengencot trampolin itu. Kontan, tubuh anak ini terhempas-hempas di atas kanvas yang sedang berayun-ayun. Tangannya srawean kesana-kemari. Ketika menemukan tubuh sang guru, segera didekapnya erat-erat dan mereka melompat bersama-sama.
Anak yang berinisial Y ini mengalami tuna ganda: Tuna netra sekaligus tuna rungu. Kondisi ini tentu saja menyulitkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Seandainya dia hanya tuna netra, maka dia masih dapat diajari berbicara secara verbal karena masih bisa mendengar.
Seandainya hanya tuna rungu, maka dia masih dapat dilatih bahasa isyarat. Akan tetapi Y mengalami tunda ganda. Hal ini jelas menyulitkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Saat ini, Y berkomunikasi dengan mengandalkan indera sentuhannya. "Kami masih mencari cara untuk menjalin komunikasi dengan Y," terang pak Sigid Widodo yang menemani kami. Meskipun tidak dapat mendengar dan melihat, namun Y dapat bergerak dengan gesit. Bosan bermain trampolin, dia berjalan menuju tempat perosotan, tanpa panduan dari orang lain. Dia menaiki tangga tanpa keraguan, sesampai di ujung atas perosotan,Y sejenak meraba papan perosotan sebelum akhirnya menempatkan tubuhnya di atasnya. Lalu dengan kepercayaan diri tinggi dia melepaskan pegangan sehingga tubuhnya meluncur deras ke bawah. Sesampai di tanah berumput, Y segera menggamit lengan gurunya dan menyeretnya ke garasi sekolah. Dia ingin bermain sepeda tandem. Begitulah Y, meski tak dapat melihat dan mendengar tapi siswa ini sangat aktif.
***
Bagaimana Anda mampu menekuni bidang pelayanan ini selama bertahun-tahun? Tanya saya dengan penuh kekaguman pada pak Sigid Widodo. Pimpinan Rawinala tidak segera menjawab. Dia malah menceritakan kisah di tanah Palestina sekitar 2000 tahun yang lalu. Ada seorang Guru yang sedang berjalan bersama-sama murid-muridnya ketika mereka melihat seorang pengemis yang buta sejak lahir. "Guru, siapakah yang telah berdosa sehingga orang ini dilahirkan buta?"tanya para murid kepada sang Guru, "Orang inikah yang berdosa atau orangtuanya?"
Pada saat itu jika ada bayi lahir dalam keadaan buta, maka masyarakat langsung memberi cap bahwa ini adalah kutukan. Itu pasti buah dari perbuatan dosa manusia. Rupanya sang Guru tidak mau ikut-ikutan memberi stigma. "Bukan karena orang ini atau orangtuanya yang berdosa, melainkan karena ada pekerjaan-pekerjaan Allah yang harus dinyatakan di dalam dia, "jelas
sang Guru dengan bijak. "Selagi masih ada waktu, kita yang harus melakukan pekerjaan itu," lanjut sang Guru.
"Demikian juga kalau melihat kondisi anak-anak yang ada di sini, jangan lantas bertanya 'siapa yang telah berdosa sehingga mereka seperti ini'. Mereka justru sangat istimewa karena dipakai oleh Allah untuk menyatakan pekerjaan-Nya," papar Sigid Widodo di ruang kerjanya yang cukup sederhana. "Kami justru bersyukur karena dengan bekerja di sini maka kami dapat melihat pekerjaan tangan Tuhan," lanjutnya wajah cerah.
Setelah diajak berkeliling di Rawinala selama dua jam, kami sungguh menyaksikan tangan Tuhan bekerja dengan dahsyat di sini. Di sini terjadi banyak sebuah mukjizat karena ada banyak orang yang mengalami perubahan hidup di sini. Hal ini tidak hanya dialami oleh para anak
didik, tetapi juga dialami oleh orangtua mereka. Dari yang sebelumnya menolak menjadi orangtua yang menerima keberadaan anak-anak mereka dengan ikhlas. Dari yang sebelumnya terlalu melindungi, menjadi orangtua yang memberi kesempatan anak-anak mereka untuk berkembang sesuai potensinya.
"Sesungguhnya bukan kami yang telah menolong mereka. Justru anak-anak itulah yang banyak memberikan berkat kepada kami," tutur Sigid Wododo dengan rendah hati.
by Purnawan Kristanto
|