|
Murti Berjuang Untuk Hidupnya |
|
|
|
|
Kisah ini terjadi 10 tahun yang lalu, ketika Pekerja Sosial Rawinala mengunjungi salah satu “klien” yang sudah lama tidak datang ke sekolah yaitu Murti. Kedua matanya tidak dapat berfungsi dengan baik, hanya mampu merasakan gelap dan terang saja.
Pada saat datang kami mendapat kabar bahwa ibunya sudah meninggal. Saat itu Murti dan adik serta Bapaknya sudah tidak ada lagi di tempat itu. Kebetulan kami masih menjumpai familinya dan mendapatkan alamat mereka.
|

|
|
Lalu kami segera mencari mereka yang ternyata tinggal di perkampungan padat dan kumuh di daerah Mangga Dua Jakarta Pusat. Pada saat itu kami berhasil menemui bapaknya dan ternyata Murti dan adiknya sudah tidak bersamanya lagi karena saat itu dia sudah menikah lagi. Murti dititipkan di keluarga pemulung dekat pembuangan sampah di bawah jalan layang kereta Mangga Besar.
Setelah mendapat persetujuan Bapaknya kami bersama-sama menemui keluarga pemulung tersebut dengan maksud membawanya untuk dirawat di Rawinala. Namun apa yang terjadi begitu kami menemui keluarga pemulung itu, ternyata mereka tidak mau menyerahkan anak itu sebelum kami dapat membayar biaya perawatan dan makannya selama 5 bulan. Mereka minta Rp.350.000,- untuk bisa membawa anak itu.
Kami hanya dapat menghela napas menyaksikan hal itu. Benar rupanya pendapat bahwa kehidupan Metropolitan begitu kejam. Menyelamatkan kehidupan orang yang susah ternyata harus pakai uang. Akhirnya kami memutuskan memenuhi permintaan mereka, dan anak itu segera kami bawa ke Rawinala.
Tahap pertama yang kami lakukan adalah pemulihan gizinya, karena pada saat itu keadaannya sangat kurus dan tidak terawat. Selain itu juga mulai mendapatkan pendidikan dan latihan kemandirian.
Saat ini Murti bertumbuh menjadi gadis remaja yang sehat, ceria dan penuh semangat. Walaupun kemampuan akademisnya sudah optimal, tetapi keterampilan yang dimilikinya luarbiasa. Dia mampu mengerjakan keterampilan kerumahtanggaan tanpa bantuan, mampu bermain musik (drum, angklung, keyboard, gendang). Murti juga pernah menjadi juara I Lomba nyanyi tunanetra tingkat DKI Jakarta dan jura harapan tingkat nasional di Surabaya.
|
 |
Murti dapat memperdalam music dan focus menggunakan drum. Murti mendapat kesempatan untuk kursus di sebuah lembaga pendidikan music atas bantuan seorang volunteer hingga saat ini. Murti bercita-cita ingin menjadi guru musik dimasa yang akan datang. Menjadi pribadi yang mandiri adalah harapannya sebagai penyandang cacat ganda netra namun mampu memberkati banyak orang. Cita-cita Murti adalah tanggung jawab kita semua sebagai pribadi yang mengenal dan mengasihi Murti.
|
|